Posted in Tulisan

Lagi

“Ben, aku masuk.”

Tanpa ketukan di pintu, dia mendorong pintu hingga terbuka. Celana jinsnya belel dan kausnya pudar. Sebuah tas plastik terselip di jemarinya.

“Sudah kubilang ketuk dulu,” sungutku sambil mendudukan diri di ranjang. Minggu pagi yang berisik, tapi aku tidak bisa tidak gembira mendapatinya di sini.

Dia hanya tertawa. Lalu, dengan santai menghempaskan diri di ranjang. Seperti yang sudah enam belas tahun ini dia lakukan. Samar-samar aku mencium aroma kopi dan krim dari rambutnya.

Perhatianku lalu teralih pada tas plastik yang dibawanya. Aku beringsut turun. “Apa ini?”

“Aku semalam membuat itu. Makanlah,” ujarnya tak acuh. Namun, aku menangkap sendu di suaranya.

Dalam tas plastik, aku menemukan tiga cangkir tiramisu. Krim putihnya bertabur serbuk cokelat dan lapisannya terlihat dari sisi cangkir yang bening. Penampilan kue itu menggiurkan, aromanya juga. Namun, alih-alih berselera aku justru mendapati kesedihan menusuk-nusuk dadaku.

Tiramisu… lagi?

“Hei, Ben, mau nonton X Men? Sudah lama kita tidak main bersama sejak…” suaranya menghilang.

Sejak kamu jadian dengan Colin, batinku.

Aku mungkin memunggunginya, tapi aku tahu bahwa sekarang dia tengah menarik napas dalam-dalam dan menahan air mata. Tiramisu dan ajakan jalan hanya berarti satu hal.

Dia baru patah hati.

“Mau nonton Civil War sekalian? Aku mau nonton lagi. Aku traktir deh.”

“Serius, Ben?” Ada gurat bahagia di antara sendu matanya.

Aku mengangguk semangat. Senyum melengkung sempurna di wajahku.

“Oke! Nanti malam ya!” Kemudian, dia menghilang di balik pintu yang masih terbuka lebar.

Tak sampai semenit, senyumku berubah getir. Aku mulai menyendokkan tiramisu perlahan. Rasanya lembut dan pahit-manis dan lumer dalam mulut. Seperti biasa. Seperti tiramisu-tiramisu lain yang dibuatnya sebelum ini.

Kenapa kamu selalu mencintai orang yang menghancurkan hatimu?

Aku menghembuskan napas panjang. Dadaku terasa sesak.

Kenapa kamu tidak pernah melihatku?

.

.

“Apa kamu tahu arti tiramisu dalam bahasa Italia, Ben?”

Aku menggeleng.

Dia mendekatkan bibir dan berbisik.


Tulisan ini diikutsertakan dalam #FlashfictionYummyLit persembahan @bentangpustaka @elpuspita @AyuwidyaA dan @dylunaly, info lengkap silakan cek di sini.

Total kata: 299 kata.

Versi pertama udah mau 400 coba, LOL. Bikin flashfiction emang susah-susah gampang, ya. Terus, ini mepet deadline, tapi ide memang baru muncul sekarang. Semoga suka. :”D

Advertisements

Author:

Seorang gadis pecinta Venezia dan es krim cokelat. Paling senang menambah tumpukan buku, menimbun benang rajutan, dan menatap langit-langit kamar. Sejak kecil bercita-cita menjadi penulis fantasi, yang sayangnya belum kesampaian.

4 thoughts on “Lagi

      1. Eh haha jadi malu .////.

        Nanti deh ya kalau punya kesempatan bakal bikin versi lebih panjang. Kalau jadi nanti saya mention kamu.
        Makasih udah mampir dan komentar

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s