Posted in Tulisan

sebuah fanfiksi Memori: Rumah dan Mahoni

Disclaimer: Semuanya: tokoh, dunia, cerita, alur, bahkan percakapan yang ada di sini adalah milik kak Windry Ramadhina, yang menulis Memori. Terima kasih telah mengizikan saya meminjam segalanya sejenak. :”)

Catatan: Ditulis dari sudut pandang Sigi (karena Sigi-lah yang membuat saya tidak bisa move on dari Memori). Semoga tidak OOC, hehe.

————————–

Sebuah Fanfiksi Memori:

Rumah dan Mahoni

Gue sering mendengar cerita tentangnya, tentang gadis penghuni kamar berpintu mahoni. Cerita-cerita itu biasanya dimulai dengan, Kau tahu, Sigi, dan Papa mulai bertutur panjang-lebar ketika aku berjongkok memerhatikannya di bengkel yang berbau pelitur dan kayu.

Satu cerita yang paling gue ingat adalah, Kau tahu, Sigi? Mahoni, kakakmu itu, selalu duduk di sana.

Papa meletakkan palunya sebelum menunjuk kotak kayu besar di dekat pintu. Matanya menatap menerawang. Lalu, gue merasakan tangan besar Papa di puncak kepala, mengacak helaian rambut gue. Dia juga sama sepertimu. Bangun sepagi ini untuk menemani Papa bekerja di bengkel, tambah Papa.

Dan senyum di wajah Papa merekah, matanya bersinar, sedang tangannya mulai mengetukkan palu di balok-balok kayu.

Dia hanya duduk? gue bertanya.

Iya. Dia hanya duduk. Meski seringkali bertanya-tanya tentang berbagai macam hal juga sepertimu.

Gue lalu memerhatikan kotak kayu di dekat pintu depan. Membayangkan ada seorang gadis berambut merah ikal duduk dengan baju tidurnya. Gue belum pernah bertemu Mahoni, tapi gue sudah kenal wajahnya. Dari album lama yang sering Papa buka diam-diam sebelum makan malam di akhir minggu.

Hari itu, gue masih bersekolah dasar. Suara gue juga masih cempreng. Tetapi, sejak hari itu gue bisa membayangkan adegan setiap pagi yang Papa dan Mahoni lakukan.

Lantas, gue bangkit berdiri. Sembari menyibak serbuk kayu yang menempel di piyama—masih dengan bayangan Mahoni duduk di tempatnya yang biasa dan Papa berkutat dengan balok kayu dalam kepala—gue bertanya, Boleh aku membantu Papa?

Papa tertegun selama beberapa detik sebelum tersenyum lebar mengiyakan.

Sejak saat itu, Papa membiarkan gue ikut bergelut dengan palu, pelitur, dan balok-balok kayu di bengkel belakang rumah. Kadang sampai gue bisa terlambat bersekolah jika Mama tidak muncul dan mengomel. Dan kadang bisa tidak berhenti sama sekali di akhir minggu.

Dalam bayangan gue, jika Mahoni ada di sini, dia akan menatap gue dengan iri karena gue diperbolehkan membantu Papa. Dan gue akan tersenyum bangga karena lama-lama gue akan sejago Papa.

Akan tetapi, saat itu, gue tidak pernah membayangkan bahwa Mahoni akan benar-benar duduk di tempat biasanya di bengkel Papa. Bukan dengan tatapan iri, melainkan dengan wajah berlinang air mata.

***

Butuh waktu sesaat sebelum gue sadar bahwa gadis yang berdiri di seberang pintu kamar gue adalah Mahoni. Rambutnya cokelat dan lurus sekarang. Bukan merah dan ikal lagi. Jauh berbeda dari foto-foto tua di album Papa.

Di sela-sela proses pemakaman, Om Ranu memang pernah berkata bahwa Mahoni akan pulang. Namun, gue tidak pernah mengira secepat ini. Virginia dan Jakarta bukan jarak yang dekat.

Gue baru saja mengusap sisa air mata ketika gadis itu berpaling dan menghilang dari pandangan. Suara Papa mendadak bergema, Kau tahu, Sigi? Desain Mahoni dimuat di Architectural Digest.

                Papa berhenti menggerakkan palunya pagi itu. Gue menahan kuap sambil menggenggam erat balok kayu yang akan menjadi bagian mebel yang sedang dikerjakan Papa. Lalu, Papa menghampiri kotak kayu besar di dekat pintu. Tangannya yang kasar mengangkat sebuah majalah. Lihat ini, Sigi. Ini desain Mahoni.

Dan Papa mulai bercerita lagi tentang Mahoni. Selain tentang kayu, cara membuat mebel, tips-tips sederhana memalu, obrolan tentang masakan Mama, Mahoni adalah topik yang paling sering Papa mulai di bengkel. Terlebih akhir-akhir ini, Papa semakin sering membicarakan Mahoni.

 Gue tahu Papa merindukan Mahoni.  Mereka sudah lama sekali tidak berjumpa. Meski gue tidak pernah tahu cerita lengkapnya, tapi gue tahu bahwa Mama-lah penyebab Papa berpisah dengan Tante Mae dan Mahoni. Seringkali ketika Papa bercerita tentang Mahoni, gue berpikir wajah seperti apa yang harus gue tampakkan jika memang suatu saat akan bertemu dengannya.

Satu hal yang tidak gue sadari saat itu adalah bahwa itu pagi terakhir yang gue habiskan di bengkel bersama Papa. Pagi terakhir sebelum perjalanan Papa dan Mama ke Bandung—yang sekarang gue sesali kenapa gue menolak turut serta dengan alasan bodoh seperti gue sudah terlalu besar jalan bersama orang tua. Pagi terakhir gue mendengarkan Papa bercerita tentang Mahoni hingga telepon rumah berdering.

Sebuah suara yang asing terdengar, Ini dengan keluarga Guruh?

Iya, jawab gue ringan. Televisi di ruangan masih menyala. Tapi Papa sedang di luar.

Suara di seberang melunak, Maaf, Nak. Kabar duka.

Setelah itu, gue tidak begitu ingat apa yang terjadi. Om Ranu datang. Tetangga, kerabat jauh, kolega, macam-macam orang datang dengan pakaian berkabung. Segalanya berlalu dengan cepat. Jenazah diantar. Pemakaman dilangsungkan. Banyak ucapan belasungkawa. Dan gue tidak bisa tidak menangis—sesuatu yang terakhir kali gue lakukan ketika masih mengenakan celana pendek berwarna merah.

Gue tidak ingat berapa lama waktu telah berlalu atau apa saja yang terjadi hingga pintu mahoni di seberang kamar gue berderik. Kamar tanpa penghuni yang rutin dibersihkan Mama tiap akhir minggu. Kamar Mahoni.

Dan sekarang Mahoni ada di sini, di rumah ini.

***

Pagi yang sunyi kembali datang. Matahari sudah tinggi ketika gue menyibak tirai kamar. 08.15. Gue mendesah. Tidak pernah gue bangun sesiang ini. Bahkan biasanya gue sudah terjaga sebelum Mama sibuk memasak sarapan di dapur. Berkutat dengan balok kayu dan suara palu bersama Papa.

Lagi, gue mendesah berat.

Rumah terlihat sepi ketika gue memutuskan untuk keluar kamar. Sepertinya Mahoni sudah sejak lama pergi. Ingatan semalam masih berkelebat dalam kepala gue. Wajah kaget Mahoni di dalam kamar gue serta rasa sup krim yang masih tersisa sedikit di ujung lidah.

Gue menelan ludah. Sekarang Mahoni sudah benar-benar menyadari kehadiran gue. Tidak lagi seperti dua hari belakangan ini. Gue dan Mahoni memang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi kami tidak seperti tinggal bersama.

Meski begitu, rumah masih tampak kosong. Gue mengedarkan pandangan dengan saksama. Tidak terlihat tanda-tanda kehidupan seperti biasanya. Tidak ada Mama di dapur. Tidak ada Papa di bengkel atau meja makan. Tidak ada … ada empat tangkup roti lapis berwadah piring porselen yang lebar dan datar kesukaan Mama di meja makan.

Gue tertegun.

Perlahan gue duduk di salah satu kursi. Ini kali pertama gue mendapati roti lapis daging asap sebagai menu sarapan. Mama biasanya menghidangkan sesuatu yang berbumbu, masakan jawa andalannya atau masakan sumatera kesukaan Papa. Nasi goreng, tumis tempe, tahu goreng, lengkap dengan susu, buah, dan jus segar.

Gue meraih satu tangkup roti lapis, menarik selada hijaunya keluar sebelum mulai menggigitnya.

Ada bayangan Mama sedang mondar-mandiri di dapur.

Kamu mau makan apa nanti malam, Sigi?

Apa saja selama bukan sayur.

Duh, Sigi, lalu Mama mulai menjabarkan manfaat dan pentingnya sayur bagi tubuh.

Di sisi lain meja makan, Papa tertawa renyah. Sudahlah, Ma. Sigi harus berangkat sekolah.

Gue menelan potongan terakhir roti lapis itu. Bayangan Mama dan Papa memudar bersamaan dengan rasa daging asap yang meluruh dalam mulut. Dan ada sesuatu yang hangat memenuhi dada ketika tangan gue meraih tangkup kedua.

Enak.

***

Pernah membayangkan bagaimana rasanya hidup di balik bayang-bayang seseorang yang bahkan tidak pernah kita temui?

Bagi gue, keberadaan Mahoni seperti itu, sebuah bayang-bayang yang tidak pernah pergi dari rumah ini. Papa tidak pernah tidak menyayangiku, aku tahu. Tapi, kadang-kadang dan sekilas, gue bisa melihat ekspresi berharap di wajah Papa.

Sejak kecil, sosok Mahoni adalah sosok yang familiar buat gue. Sosok berambut merah bergelombang itu kerap menari-nari di sudut kepala gue. Hidup, tertawa, dan ceria seperti dalam cerita-cerita Papa. Begitu dekat dan nyata. Tapi, di saat yang bersamaan juga sangat asing dan tidak terjangkau.

“Minum dulu.”

Mahoni meraih cangkir yang gue sodorkan. Matanya sedikit sembab dan merah ketika gue mengerling sekilas. Ada jejak-jejak air mata tertinggal di sana.

“Sori. Nggak ada gula,” gue buru-buru berkata ketika ekspresi wajah Mahoni berubah.

Lalu, gue duduk di seberang Mahoni. Apa yang harus gue lakukan? Apa gue harus menghiburnya? Atau gue harus mengatakan sesuatu? Tapi … apa?

Gue tidak pernah menghibur seorang yang menangis tanpa henti seperti Mahoni tadi. Gadis itu terlihat begitu sedih dan kehilangan ketika mendapati gue yang sedang merangkai mebel di bengkel Papa. Setelah beberapa hari tinggal bersama Mahoni, baru hari ini gue melihat ekspresi lain selain kaku dan canggung di wajahnya. Ekspresi yang selalu gue dapatkan ketika sedang bercermin.

Segala sesuatunya menjadi berbeda sejak pagi ini. Mahoni bukan lagi bayang-bayang yang tidak pernah pergi dari rumah ini sekarang.

Jari-jari gue masih mengetuk meja makan ketika terdengar suara kursi bergeser. Gue mengerling Mahoni yang ternyata melangkah ke dapur, kemungkinan besar mencari gula. Beberapa saat berlalu hingga gadis itu kembali ke ruang makan.

“Gue sudah bilang,” gumam gue samar.

Gue mengangkat wajah, balas menatap Mahoni yang sedari tadi tengah mendelik. Setelah menelan ludah, gue menambahkan, “Nanti gue antar ke Indomaret. Maksud gue, kalo lo mau beli gula.”

“Terima kasih, tapi tidak perlu.” Itu jawaban Mahoni sebelum beranjak pergi.

Sejak saat itu, Mahoni benar-benar mewujud nyata dalam ruangan-ruangan di rumah. Bukan lagi dalam bentuk cerita-cerita yang meluncur dari mulut Papa. Gadis itu benar-benar ada.

***

“Tidak usah. Aku bisa sendiri.”

Gue hanya diam memerhatikan raut wajah Mahoni. Bekas tangisan tidak lagi tersisa di wajahnya—yang mengingatkanku pada Papa dan Tante Mae sekaligus. Gadis itu terlihat sedang berpikir dan mengingat-ingat. Setelah jeda beberapa detik, gue mendesah, sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar bagi daerah ini untuk berubah. “Lewat sini.”

Sebetulnya gue tidak yakin apakah Mahoni akan berjalan mengikuti. Sedari tadi dia menolak dengan tegas tawaran gue. Tapi, setelah beberapa detik berlalu dan gue mendengar suara langkah samar di belakang, gue tahu ada Mahoni di sana.

Dan gue tidak bisa menahan bibir gue untuk tertarik sedikit. Begini mungkin rasanya punya seorang saudara yang bergantung padamu.

“Nanti, kalo lo sudah selesai, tunggu gue di depan,” gue berpesan sebelum menghilang di rak-rak perlengkapan mandi.

Gue sering ke Indomaret. Biasanya menemani Mama belanja macam-macam di awal bulan. Well, lebih tepatnya gue diperbudak Mama untuk membawa kantung-kantung belanjaannya yang banyak. Kadang Papa juga ikut serta, berdiri di samping Mama dan berkomentar tentang macam-macam.

Mahoni sudah berdiri di depan ketika gue menumpahkan barang-barang belanjaan di meja kasir.  Gue segera merogoh saku celana dan jaket, mengeluarkan semua uang yang gue punya. Kasir di depan gue menghitung lembaran dan recehan yang gue berikan, lalu menunggu.

Sial. Jangan bilang uang gue kurang.

Dengan panik, gue kembali merogoh semua saku. Berharap menemukan lembaran-lembaran yang terselip entah di mana. Tak lama, selembar uang kertas melayang di dekat pandangan gue. Mahoni menatap gue dengan gemas.

“Cepat bayar barangmu. Nanti salmonku keburu mencair.”

Tanpa banyak bicara, gue menuruti Mahoni. Gadis itu membuat jarak sembari menunggu gue menyelesaikan transaksi.

Perjalanan pulang tetap didominasi keheningan. Mahoni sendiri masih menciptakan jarak yang konstan di antara kami, meski gue sudah mengubah tempo berjalan. Tapi, gue merasa ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya gue yang merasakan bahwa Mahoni ada dan hidup di rumah yang sama. Gue rasa, Mahoni juga merasakan hal yang sama.

Dan hal ini membuat gue merasa … entahlah, gue rasa senang adalah kata yang tepat.

Setidaknya setelah itu gue tidak lagi sekikuk sebelumnya. Dan dia tidak lagi ragu untuk memaksa gue menghabiskan salad sayur sebagai salah satu menu makan malam di hadapannya—yang segera saja membuat gue ingin muntah.

Rasanya, sebuah lubang menganga yang tercipta sejak berita duka itu sampai ke rumah ini perlahan menutup. Dan fakta ini membuat gue merasa lebih ringan.

***

Hari-hari berjalan dengan damai. Mahoni sudah dua hari ini berdiam dalam rumah. Dalam kamarnya yang selalu tertutup, sibuk di dapur, sesekali berjalan di sekitar rumah, duduk di depan teras atau sekadar mengotak-atik laptopnya.

Gue tidak mengusiknya. Tapi gue tahu dia senang mendengarkan suara teratur palu dari bengkel Papa—dan gue juga senang menciptakannya. Jadi, gue semakin sering mengerjakan sesuatu di sana. Melakukan rutinitas yang biasa gue lakukan bersama Papa. Hal ini membuat gue merasa semakin ringan menghadapi kenyataan bahwa gue telah kehilangan Mama dan Papa.

Mahoni juga tidak pernah lagi lupa menyiapkan makanan. Pagi dua hari yang lalu, ketika gue membangunkannya di meja makan karena ponselnya begitu berisik, gue melihat piring kaca bening kosong di tempat cucian piring. Menu makan malam yang gue buat karena Mahoni langsung mengurung diri dalam kamar begitu kembali dari luar.

Masakan terlalu asin itu habis dimakannya dan gue tidak tahu harus bersikap seperti apa. Untungnya gue tidak perlu bersikap seperti apa pun karena begitu bangun, Mahoni bergegas pergi. Gue rasa dia sedang direkrut bekerja di suatu biro arsitek—gue ingat desainnya pernah masuk majalah arsitek dan itu berarti kemampuannya luar biasa. Dan mungkin dua hari ini dia sedang ingin beristirahat. Entahlah, gue tidak tahu.

Sampai sekarang pun, interaksi gue dengan Mahoni masih sangat terbatas. Tapi, tidak ada lagi sesuatu yang kosong dan hampa mengisi jarak di antara kami, gue rasa.

“Sigi, makan dulu. Ni Mar sudah membuatkan mi aceh.”

Ni Mar muncul dengan sepiring makanan yang mengepulkan asap beraroma lezat. Gue meletakkan palu dan beranjak berdiri.

“Terima kasih, Ni Mar,” ucap gue sebelum meraih piring itu.

Senyuman terkembang di wajah Ni Mar. Aku tahu wanita ini mencemaskan diriku. Ni Mar mengenal Mama dan Papa cukup lama untuk ikut merasakan suasana duka dan kehilangan.

“Untung ada Mahoni, jadi Ni Mar tidak perlu cemas,” Ni Mar berkata sebelum berlalu.

Perkataan yang sukses membuat gue termenung selama beberapa detik. Apakah memang terlihat seperti itu?

Setelah itu, gue tidak bisa menahan diri untuk tersenyum.

***

Sial.

Gue segera menyambar dua payung di dekat pintu. Bergegas, gue mengembangkan payung pelangi, payung kesukaan Mama, dan menerobos hujan.

Malam telah lama larut dan Mahoni belum terlihat sama sekali. Dia tidak pernah pulang melewati jam makan malam. Mahoni tidak mungkin menunggu gue di stasiun, kan? Maksud gue, setelah kejadian kemarin, dia tidak mungkin merasa perlu menunggu gue menjemput, kan?

Tapi, bagaimana jika sedari tadi dia duduk seorang diri di stasiun, menunggu gue datang membawa payung. Oh, sial. Entah kenapa bayangan Mahoni yang tengah menunggu begitu mengusik gue. Entah kenapa gue tidak ingin Mahoni menunggu seperti gue kemarin.

Sial. Dan gue mempercepat langkah, setengah berlari, mengabaikan percikan air yang membuat kuyup pakaian.

Bayangan Mahoni menepikan taksi terlihat ketika gedung stasiun memasuki radius penglihatan gue. Ternyata Mahoni benar-benar menunggu gue. Sejak kapan? Jangan bilang sejak jam kantor berakhir….

“Mahoni!” panggil gue tepat sebelum dia menaiki taksi.

Butuh waktu sejenak sebelum gue sampai di dekatnya. Sebagain pakaian gue basah dan napas gue tidak teratur karena berlari. Akan tetapi, itu tidak penting. Mahoni jauh lebih penting.

“Aku di sini sejak pukul enam,” suaranya terdengar bergetar beberapa detik kemudian. Dan gue menangkap matanya berkaca-kaca.

Gue hanya bisa menjawab terbata, “Sori. Gue kira—“

“Kau tahu udara sangat dingin?” Suara Mahoni terdengar begitu lirih. Dan rona wajahnya seperti campuran antara lega dan ingin menangis.

“Iya. Sori.”

“Aku menggigil dan kelaparan. ‘Sori’ sama sekali tidak cukup.”

Gue tertegun. Rasa bersalah dan penyesalan merambat cepat. Lalu, gue tidak bisa berhenti merutuki kebodohan diri sendiri. Sembari mengacak-acak rambut, gue membatalkan taksi Mahoni. Lalu, menyodorkan tangan.

“Mana ponsel lo?”

Mahoni terlihat tidak paham, tapi dia tetap memberikan ponselnya. Dengan cepat gue mengetik nomor yang begitu gue hapal. Nomor ponsel gue dan nomor rumah. Setidaknya dengan begini Mahoni tidak akan menunggu seperti sekarang. Dan setidaknya perasaan bersalah itu sedikit menguap dari diri gue.

“Lain kali, kalau butuh apa-apa, lo telepon gue.”

Ekspresi Mahoni segera berubah. Ada kristal bening yang menggenang di sudut matanya.

Gue menelan ludah. Perasaan bersalah itu memang sudah pergi, namun ada perasaan panik yang sekarang menggantikan. Apa yang harus gue perbuat kalau Mahoni benar-benar menangis? Gue segera mengembangkan payung jingga untuk Mahoni, sebelum bertanya dengan suara lirih, “Warung tongseng langganan Papa ada di dekat sini. Lo mau?”

Mahoni mengangguk pelan. Setelah dia meraih payung yang gue berikan, gue mulai melangkah. Dengan Mahoni mengikuti dalam diam.

Hanya ada suara hujan yang menemani kami malam itu, ketika untuk pertama kalinya, kami menikmati makan malam di meja yang sama.

***

‘Kau anak Grace.’

Ucapan Mahoni masih terus menggema dalam kepala gue hingga sekarang dalam perjalanan kembali dari Yogyakarta. Mahoni telah meminta maaf dan memberikan sedikit penjelasan tadi. Akan tetapi, gue mengerti.

Mungkin selama ini hanya gue yang merasa memiliki Mahoni sebagai saudara.

Dan perasaan itu membuat gue takut. Rasanya kembali sepi dan hampa seperti ketika tanah pemakaman menutup jenazah Mama dan Papa. Menyisakan lubang kosong yang kembali menganga lebar.

Di sisi lain, adalah suatu kenyataan karena Mama, Mahoni kehilangan sosok Papa. Serta kenyataan bahwa selama ini Mahoni membenci keberadaan gue. Mungkin karena gue juga telah merebut perhatian Papa dalam hidupnya. Lalu sekarang, gue jugalah yang akan menghancurkan masa depan Mahoni.

Rasanya gue adalah orang paling jahat dalam hidup Mahoni.

“Mahoni. Lo … baik-baik saja?” gue memberanikan diri bertanya.

“Tidak.”

“Sori.” Gue tahu permintaan maaf tidak akan menyelesaikan apa pun. Dan permintaan maaf juga tidak bisa mengembalikan impian masa depan Mahoni. Tapi, gue bisa apa?

‘Kau anak Grace.’

Perkataan dan ekspresi Mahoni ketika mengucapkan hal itu masih begitu segar dalam ingatanku. Rasanya pahit. Sakit.

Ah … gue tahu.

Gue menarik napas dalam-dalam, berusaha terdengar tegar dan siap. “Gue bisa indekos.”

Mahoni segera menoleh ke belakang. Raut wajahnya terlihat tidak percaya.

“Maksud gue, kalo lo ingin balik ke Virginia, gue bisa hidup sendiri.”

Dengan begini, gue tidak akan menjadi orang paling jahat dalam kehidupan Mahoni. Paling tidak gue bisa mencegah diri gue merebut masa depannya.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”

“Nggak tahu.” Gue terdiam. Ini mungkin bisa jadi percakapan terakhir gue dengan Mahoni. Dan perasaan ingin menangis—karena merasa jahat pada Mahoni tapi tidak ingin kehilangan dirinya—yang mendadak memenuhi dada ini membuat gue merasa begitu lemah. “Gue ingin seperti Papa.”

“Dan, sekolahmu?”

“Tukang kayu nggak perlu sekolah.”

Selama beberapa saat tidak ada tanggapan dari Mahoni. Mungkin gadis itu sedang mempertimbangkan segala sesuatunya, seperti berpikir kapan dia bisa sampai ke Virginia mungkin. Toh, pada akhirnya, bagi Mahoni, gue bukan siapa-siapanya.

Gue sudah menyiapkan diri jika Mahoni menerima usul gue—meski rasanya sesakit ketika menerima kabar duka tentang Mama dan Papa—ketika Mahoni mulai mengomel.

Seketika itu juga, rasa perih itu berhenti. Digantikan sesuatu yang lebih hangat dan nyaman.

Mungkin, bukan hanya gue yang menganggap kami benar-benar saudara.

Meski malam itu gue tidak bisa tidur dengan nyenyak karena Mahoni masih belum berkata akan tinggal atau pergi, tapi setidaknya gue sadar bahwa dia … peduli.

***

Esoknya, ketika gue mendapati Mahoni merobek kertas dinding ungu ruangan, gue tahu bahwa dia tidak akan pergi.

“Jadi … lo … nggak balik ke Virginia?” tanya gue, meyakinkan. Tirai-tirai hijau itu baru saja gue lepas seperti permintaannya.

“Tidak.”

Gue memang telah meyiapkan diri untuk tinggal seorang diri. Dan gue juga sudah memikirkan berbagai macam argumen tentang darimana bisa hidup—seperti cara usaha atau kerja paruh waktu—jika Mahoni kembali ke Virginia, ketika mendengar kenyataan bahwa gadis itu tidak jadi pergi, gue merasa begitu … dicintai.

Seperti mendapatkan Mama dan Papa yang masih hidup dalam wujud yang berbeda. Dalam bentuk gadis bernama Mahoni.

“Sori,” ucap gue dengan suara serak.

Di sisi lain, gue masih mengingat fakta bahwa tidak kembalinya Mahoni ke Virginia berarti dia batal meraih mimpinya.

“Aku ingin kau kembali sekolah besok.”

Hanya itu jawaban Mahoni atas permintaan maaf gue. Sepanjang waktu membantunya melepaskan, merapikan, dan menyingkirkan barang-barang di lantai dasar, gue tidak bisa berhenti mengulum senyum dan merasa bahagia.

Mungkin, begini rasanya memiliki seorang saudara. Seorang kakak….

Lama berselang ketika akhirnya Mahoni membiarkan gue tinggal sendiri—bukan indekos melainkan di rumah Papa. Dan hanya sekali gue merasa cemas Mahoni tidak akan pulang, yaitu ketika Tante Mae datang. Setelah itu dan hingga pesta pernikahan digelar di sela-sela jadwal kuliah gue yang padat—meski gue sudah memohon agar jangan di musim kuliah, keduanya tetap melangsungkan pesta dan mengabaikan permintaan gue—Mahoni ada di sini, di rumah ini.

Tinggal bersama gue.

End

————————–

Catatan: Pernah diterbitkan di blog saya yang dulu, tapi berhubung blognya mau dihapus, saya pindahin ke sini deh. 🙂

Advertisements

Author:

Seorang gadis pecinta Venezia dan es krim cokelat. Paling senang menambah tumpukan buku, menimbun benang rajutan, dan menatap langit-langit kamar. Sejak kecil bercita-cita menjadi penulis fantasi, yang sayangnya belum kesampaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s