Posted in Tulisan

Taruhan

Linda tanpa sengaja membanting tumpukan buku dan kertas-kertasnya ke meja perpustakaan. Untungnya sang penjaga perpustakaan cukup dekat dengan Linda sehingga dia hanya ditatap tajam sekilas. Linda segera menunduk meminta maaf sebelum duduk di kursi. Hari ini perasaannya begitu campur aduk.

Baru saja dia melihat melihat daftar nama pemenang lomba menulis yang ditempel di mading sekolah. Rasanya hati Linda tercabik-cabik melihat tidak ada namanya

“Elu bego amat emang, Lin,” bisik Linda penuh amarah pada dirinya sendiri. “Pengecut.”

Nama Linda tidak ada dalam daftar bukan karena karyanya jelek. Nama Linda tidak ada karena dia terlalu takut mengumpulkan karyanya. Selalu seperti itu sejak dulu. Linda tidak pernah punya keberanian untuk mengirimkan tulisannya.

Dia sempat membaca karya sang pemenang yang juga ditempel. Linda cukup yakin karya buatannya itu tak kalah bagus. Seandainya saja Linda lebih percaya diri, mungkin saat ini namanya juga tercantum sebagai salah satu juara. Sayangnya, itu hanya seandainya.

Linda sangat dan marah pada dirinya. Namun, apa yang bisa dia lakukan selain menyesal? Ini salahnya sendiri karena begitu pengecut.

“Belum perang aja udah kalah.” Linda merebahkan kepalanya di meja. Seharusnya dia tidak mampir ke mading sehingga tidak perlu semenyesal ini. Namun, dia pasti tidak akan tenang jika tidak melihat mading.

Linda baru mengangkat wajahnya ketika mendengar suara gemerusuk, yang ternyata berasal dari tumpukan kertas-kertasnya yang diterbangkan angin. Oh tidak! itu semua karya Linda! Bisa gawat jika terbang ke mana-mana dan dibaca orang lain.

Dengan sigap gadis itu mengambil semua kertas yang beterbangan. Di kursi lain, di dekat rak buku, di lantai, yah di mana-mana. Setelah semua kertas terkumpul, ia menghitung lembaran yang ada. Kurang satu lembar. Tidak … Ada di mana? Linda langsung saja panik.

“Hei.” Sebuah suara berat memanggil dari belakang Linda, suara yang familier. “Apa kertas ini milikmu?”

Perlahan Linda berbailk, setengah berharap bahwa suara itu bukan milik seseorang yang dia pikirkan. Namun, harapan hanya harapan. Suara itu memang milik Reka, cowok yang selama ini diam-diam Linda taksir. Teman sekelasnya itu berdiri di hadapan Linda sambil mengacungkan selembar kertas.

“Iya. Terima kasih,” jawab Linda dengan suara sedikit aneh karena terlampau gugup. Aduh, aduh, Linda, tenang sedikit, tambahnya dalam hati sambil berusaha untuk bertingkah biasa.

Reka lalu menyerahkan kertas itu pada Linda. “Sama-sama, Linda.”

Ketika Linda berpikir bahwa Reka akan langsung pergi, Reka justru tersenyum dan menambahkan, “Itu karyamu? Boleh aku baca lanjutannya? Aku penasaran.”

Segera saja Linda merasakan wajahnya memanas. Kemudian, Linda sendiri tidak mengerti kenapa dia memberikan kertas-kertasnya begitu saja pada Reka dan membiarkan Reka mengambil tempat duduk di sampingnya.

Gadis itu duduk dengan harap-harap cemas. Ini kali pertama ada yang membaca karyanya. Linda juga tidak pernah menyangka bahwa yang akan menjadi pembaca pertamanya adalah seorang Reka. Mimpi apa gue semalam? tanya Linda lirih dalam hati.

“Karya ini kamu ikut sertakan dalam lomba?” tanya Reka, menyadarkan Linda dari dunianya sendiri.

“Eng, enggak,” jawab Linda pelan, takut-takut.

Reka menangkat sebelah alisnya, heran. “Lho? Kenapa? Padahal menurutku ini lebih bagus daripada karya yang menang.”

“Eh? Lebih bagus?” Linda menatap Reka tidak percaya. “Kamu bercanda, kan?”

“Aku serius, Linda. Aku yakin kalau kamu ikut kamu bakal menang.”

Linda terperangah. Reka jelas mengatakan hal itu hanya untuk membuat Linda senang, kan? Ia memang cukup yakin karyanya tidak kalah dengan karya pemenang tetapi lebih bagus dan bahkan lebih layak menang? Linda sama sekali tidak percaya.

“Apa kamu terlalu takut untuk mengumpulkannya?” tebak Reka karena Linda tak kunjung memberikan jawaban. Tebakan yang sangat jitu.

Yah, habisnya mau bagaimana lagi? Sejak kecil Linda memang suka menulis, tetapi tak ada orang yang menjadi temannya bercerita. Kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan. Dia juga anak tunggal jadi tidak ada saudara di sisinya. Teman juga bukan pilihan karena Linda keburu tidak punya rasa percaya diri.

“Iya. Aku takut,” aku Linda setelah kesunyian canggung yang lama. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa bisa menceritakan semua ketakutan dan kecemasannya pada Reka. Seperti dia tidak pernah menyangka akan duduk bersisian dan berbincang di akhir jam pulang sekolah seperti sekarang dengan Reka, cowok yang selama ini hanya dilihatnya dari jauh.

Linda selesai menumpahkan segala emosinya. Rasanya lebih lega sekali sekarang.

“Bagaimana jika kita buat taruhan?” Reka melemparkan pertanyaan. “Kamu tahu aku suka melukis, kan? Gimana kalau aku menang lomba, aku traktir kamu. Begitu juga sebaliknya.”

Linda lagi-lagi terperangah. Sedikit shock karena hubungannya dengan Reka berkembang pesat dari sebatas teman sekelas dalam satu kesempatan.

“Dan kita boleh minta pendapat soal karya satu sama lain.” Reka tersenyum. “Berani?”

FIN


Diikutsertakan untuk Giveaway yang diselenggarakan oleh @johanesjonaz

Udah lama nggak nulis cerita remaja, haha. Kayaknya pun ini gitu doang ya. Gapapa deh. Punya potensi buat dikembangkan cerita ini. Semoga bisa mengembangkannya. Siapa tahu bisa buat ikutan itu sekalian. >.< /lupaskripsi /lha

Advertisements

Author:

Seorang gadis pecinta Venezia dan es krim cokelat. Paling senang menambah tumpukan buku, menimbun benang rajutan, dan menatap langit-langit kamar. Sejak kecil bercita-cita menjadi penulis fantasi, yang sayangnya belum kesampaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s