Posted in Jurnal

Hidup Tanpa HP

Jadi, sejak seminggu lalu ponsel saya rusak. Pertama-tama yang pintar, lalu yang senter. Jadi, sudah selama seminggu ini saya (bisa dibilang) jauh dari teknologi yang selama ini 24 jam/7 hari ada.

Bisa dibilang usia ponsel saya memang sudah uzur. Mungkin memang sudah masanya untuk diganti. Atau bisa juga karena beberapa waktu yang lalu saya dengan sombongnya berkata, “hapeku awet nih”. Jadi, diberilah saya cobaan ini karena kesombongan saya. :”

Anehnya, semua tidak seburuk itu. Meski ponsel dan internet sekadang telah masuk kebutuhan pokok, selama seminggu ini saya baik-baik saja.

Mungkin juga karena sekarang ini bulan Ramadhan, jadi agenda saya lebih padat dari biasanya. Lagi pula, mungkin memang ponsel saya memang harus rusak supaya saya bisa lebih banyak mengisi bulan ini dengan kegiatan yang produktif. Bukannya ber-medsos-ria.

Meskipun tentu ada satu-dua hal yang terkendala (seperti saya jadi tidak punya info soal GA buku, kuis-kuis di medsos, atau bahkan promosi gencar buat blogtour atau yang lainnya, serta malas blogging, atau dihubungi orang lain tentunya), hidup tanpa HP tidak seburuk itu.

Saya jadi tidak setiap berapa menit sekali mengecek ponsel. Saya jadi tidak sering-sering stalking akun orang. Saya jadi jarang menghabiskan waktu untuk melihat layar ponsel pintar itu. Saya jadi tidak terlalu peduli pada hal-hal lain dan lebih fokus pada hal yang ada di depan mata.

Walaupun… ternyata saya tidak bisa seproduktif yang saya inginkan. Hiks. Manajemen waktu saya memang belum optimal di awal bulan Ramadan ini. :”

Semoga hari-hari ke depannya saya jadi bisa lebih produktif. Mengisi waktu-waktu yang dulu saya gunakan untuk mengecek FB dengan membaca buku. Mengisi waktu-waktu yang dulu saya gunakan untuk stalking dengan menulis. Mengisi waktu-waktu yang dulu saya gunakan untuk hal tidak penting dengan hal penting.

—————————-
siang hari yang terik, 10 Juni 2016

Advertisements

Author:

Seorang gadis pecinta Venezia dan es krim cokelat. Paling senang menambah tumpukan buku, menimbun benang rajutan, dan menatap langit-langit kamar. Sejak kecil bercita-cita menjadi penulis fantasi, yang sayangnya belum kesampaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s