Posted in Tantangan

Hari 11: Jika

img_20161111_143311

Tema hari ke-11 adalah something you always think “What If…” about.

“What if…” ini bagi saya umumnya menyuarakan penyesalan. Berandai-andai akan hal yang sudah terjadi. Berpikir kemungkinan yang terjadi jika pilihan yang diambil bukan pilihan A, tapi pilihan B atau C atau yang lain.

Jadi, inilah jika yang paling sering saya pikirkan,

Bagaimana jika saya nggak membeli buku ini?

Ini sering banget terlintas setelah saya membeli buku. Umumnya buku diskonan karena saya gampang sekali terpengaruh diskon buku hiks.

Saya nggak pernah borong buku obralan banyak banget, keuangan saya masih disponsori orang tua dan saya rasa saya cukup tahu diri. Namun, terkadang saya sedih dan menyesal selepas berbelanja buku bukan atas dasar “ingin (benar-benar) dibaca”, melainkan karena “kayaknya bagus, beli aja ah mumpung murah”.

Sebabnya sederhana. Buku-buku itu sering kali hanya berakhir menghiasi rak buku saya yang sudah sedemikian penuh.

Ketika saya membeli buku-buku di obralan, berarti ada hal lain yang saya korbankan. Sebab buku-buku ini tidak pernah masuk budget bulanan saya. Saya rela makan pas-pasan untuk dapat buku-buku di obralan. Saya rela cuma beli baju baru setahun sekali (atau malah kurang). Saya rela nggak pakai make up apa pun (lagipula saya nggak suka dandan juga sih haha). Intinya ada yang saya korbankan karena buku lebih penting menurut saha

Sayangnya, kerelaan ini juga menciderai tabungan saya. Saya luar biasa sedih dan kecewa atas pengendalian diri saya yang lemah. Namun, apa yang bisa saya lakukan selain berpikir “gimana kalau saya nggak pernah beli buku ini”. 😦

Satu-satunya cara untuk mengobati perasaan terluka itu hanya membaca buku-buku yang saya beli. Sayangnya lagi, saya sedang tidak bisa membaca dengan cepat. 😥

Haaaahhh….

Hal lain yang sering saya pikirkan adalah

Bagaimana jika saya menggarap “ini” lebih (isilah dengan kata yang sesuai)?

“Ini” di sini adalah “itu”. A sacred word for every college student. 😦

Yah, ada banyak hal yang terjadi dalam proses saya untuk merampungkan pekerjaan harian terakhir ini. Banyak hal yang membuat pikiran-pikiran “gimana jika…” berlalu-lalang dalam kepala saya.

Namun, hal-hal itu sudah terjadi. Waktu sudah berlalu. Dan sekarang saya ada di sini.

Berandai-andainya harus saya sudahi dan melangkah walaupun sulit. Iya, kan?

Bagaimana jika saya mengambil kesempatan itu?

Rasanya setiap orang punya titik penyesalan ini. Penyesalan atas melewatkan sebuah kesempatan adalah penyesalan paling sering.

Ada banyak kesempatan yang saya lewatkan. Saya tahu persis. Itulah kenapa saya juga tahu alasan saya hanya ada di sini-sini saja.

Saya tahu dan sadar. Sayangnya, yah, begitulah…. :’)

Bagaimana jika senjata tak pernah diciptakan? Bagaimana jika kebencian tak ada? Bagaimana jika manusia punya kesabaran sebanyak Dia? Bagaimana jika hewan-hewan yang telah punah masih hidup? Bagaimana jika manusia lebih bersikap manusia?

Bagaimana jika saya kaya raya? Bagaimana jika… dunia menjadi tempat yang lebih damai? :’)

Yah, sudah. Mari akhiri andai-andai ini.

Meski demikian, saya tetap berdoa semmoga Dia menjaga umat-Nya dan dunia ini. Amin.

Advertisements

Author:

Seorang gadis pecinta Venezia dan es krim cokelat. Paling senang menambah tumpukan buku, menimbun benang rajutan, dan menatap langit-langit kamar. Sejak kecil bercita-cita menjadi penulis fantasi, yang sayangnya belum kesampaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s