Posted in Tulisan

Aku Hilang (Lagi)

blue-valley

Usiaku dua puluh tahun saat aku sadar bahwa aku hilang.

Saat itu, aku seorang diri. Tak ada mereka yang selalu mengajakku ke kantin. Tak ada mereka yang menemaniku berjalan-jalan di penghujung hari. Tak ada mereka yang enam tahun belakangan ini selalu mengisi hariku dengan keakraban.

Mereka telah beranjak. Menelusuri jalan mereka sendiri. Mengejar cita-cita dan mimpi dan masa depan. Meninggalkan aku hilang di tengah-tengah keterasingan.

Namun, yang membuatku semakin hilang adalah sebuah foto berisi wajah-wajah akrab. Foto suami istri baya dan anak gadisnya. Ketiganya tersenyum penuh. Aku bisa melihat bola mata mereka dipenuhi kerlip kebahagiaan. Foto itu menghujaniku dengan sembilu.

Aku meringkuk. Mencermati dua puluh tahun yang telah terlewati. Menelusuri sudut-sudut untuk mencari tahu sejak kapan aku mulai hilang. Mengajukan tanya padanya, pada dia yang berbagi kehidupan denganku.

“Kenapa dia bisa seakrab itu sedangkan aku tidak?” tanyaku.

“Kamu tidak pantas bertanya kenapa. Itulah yang terjadi,” dia menjawab.

“Tapi, aku tidak tahu kenapa…” Kesedihan menggerogoti jiwaku. Membuat perasaanku berlubang-lubang.

Dia berdecak. Tampak tak sabar. “Coba ingat apa yang paling sering kamu pikirkan tahun-tahun belakangan ini? Apa mereka?”

Aku tergugu. Tak sanggup mengujarkan satu patah kata pun. Karena mengungkapkan jawaban sama artinya dengan mengakui bahwa aku telah bersikap tak peduli.

“Orang-orang datang dan pergi dalam hidupmu, tapi mereka akan selalu ada. Sehilang apa pun dirimu di kehidupan ini.” Dia berbicara penuh harap.

Ya. Saat itu, aku sadar betul bahwa selama ini aku hilang. Hilang di antara orang-orang yang kupanggil teman. Hilang di dalam kesibukanku bersama dunia. Hilang di tengah-tengah lautan diriku. Hingga melupakan bahwa mereka sebenarnya selalu membersamai langkahku meski berjarak.

“Apa… aku masih bisa menebusnya? Apa tidak terlambat?” tanyaku takut-takut. Ada kekhawatiran besar menyesakki dadaku.

Dia mengulum senyum, “Tidak ada kata terlambat.”

Jawabannya menentramkan hatiku. “Ya. Benar. Tidak ada kata terlambat….”

Dia meraih tanganku. Mengangguk penuh pemahaman sembari menyodorkan sebuah foto lain.

Aku menatap foto itu, kali ini berisi sepasang orang tua dan lima anaknya dengan cermat. Wajah-wajah yang familiar. Ekspresi-ekspresi yang akrab. Namun, tak pernah kusadari betapa berharganya hal itu sebelum kesendirian mengepungku di tanah orang.

“Keluarga selalu akan menjadi rumahmu. Sapa mereka meski kau tidak terbiasa.” Dia meremas tanganku. Menularkan semangat dan kepercayaan diri.

Kepalaku terangguk. “Ya, akan aku lakukan,” jawabku meski ketakutan dan kekhawatiran masih memenuhi dadaku.

Seperti membaca pikiranku, dia kembali berujar dengan suara lembut. “Ungkapkan kasihmu lewat cara-cara lain. Aku tahu kamu tidak biasa menyatakannya lewat kata-kata.”

Kalimatnya kembali membuat kepalaku terangguk. Kali ini penuh keyakinan. Dia benar. Kasih tak harus dinyatakan lewat bahasa. Kasih bisa dikatakan lewat berbagai macam hal lain.

“Semoga kamu menemukan dirimu kembali,” bisiknya sebelum melebur dalam laju waktu.

Tiga tahun telah telah berlalu sejak pembicaraan itu terjadi. Dalam tiga tahun ini, aku mungkin berhasil menemukan sedikit diriku bersama mereka lewat telepon-telepon singkat, pesan-pesan di ruang obrol keluarga, atau pertemuan yang tak pernah lama. Namun, sepertinya dia berpendapat lain.

“Hei, kamu mulai hilang lagi. Karena itu, aku akan mengambil kesempatan ini darimu.”

Dia muncul hanya untuk mengatakan hal itu. Lalu, pergi bersama kesempatan yang dikatakannya. Tak ada lagi panggilan-panggilan telepon dari rumah sesering dulu. Tak ada lagi pesan-pesan penyejuk di kala subuh. Tak ada lagi suara berat yang mengajukan tanya, “Apa kabar, Kak?”

Hanya ada aku yang meratap bersama kesedihan dan penyesalan. Aku yang berusaha menebus penyesalan lewat doa-doa kepada langit.

“Ya Allah, tolong jaga ayahku.”


Ditulis berdasarkan kisah nyata pribadi yang masih berusaha menemukan dirinya dan masih mengharapkan yang terbaik untuk ayahnya. Dia kesulitan mengungkapkan kehilangannya dengan gamblang, sehingga memilih untuk menuliskannya seperti ini. Lagi pula, dia masih belum berhasil mengatasi kehilangannya.

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie

 

Advertisements

Author:

Seorang gadis pecinta Venezia dan es krim cokelat. Paling senang menambah tumpukan buku, menimbun benang rajutan, dan menatap langit-langit kamar. Sejak kecil bercita-cita menjadi penulis fantasi, yang sayangnya belum kesampaian.

2 thoughts on “Aku Hilang (Lagi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s