Posted in Tantangan

Hari 31: 2016

Okay. Tulisan ini harusnya diterbitkan kemarin, tapi apalah daya mata udah sayup-sayup. Untunya sempat menyelesaikan dua review di blog buku sebelum naik ke kasur. Meski akhirnya nggak sempat nulis buat ini, haha.

Baiklah, mari melakukan napak tilas.

2016 rasanya mirip 2015, saya lebih banyak tidak melakukan apa pun. Gimana ya, setelah 2013 dan 2014 yang diawali dengan hari-hara rada berat, 2016 ini terasa lempeng. Well, sebenarnya tidak juga sih. Ada beberapa hal penting yang terjadi dalam hidup saya.

Pertama, mari membahas soal akademik.

Awal 2016 ini terasa lempeng karena beban KP telah saya selesakan di 2015, meski laporannya jelas belum. Yah, bulan-bulan awal saya habiskan dengan menyelesaikan penulisan laporan KP sih. Meskipun lelah karena dosen pembimbing KP meminta format baru, saya merasa cukup puas. Pun saya merasa mendapatkan sebuah pelajaran penting dalam proses penulisan itu. 🙂

Lalu, saya nggak lulus Kompre. Saat itu, saya serius pulang dengan perasaan sedih. Sedih banget sampai-sampai sepanjang jalan itu nangis, haha. Rasanya benar-benar kecewa sama diri sendiri. :’)

Yah, nggak lulus kompre ini membuat saya malas melanjutkan skrispi. Rasanya nggak bersemangat. Lalu, batas pengumpulan berkas tiba dan saya langsung kalang-kabut LOL. Akhirnya saya ikut kompre ulang dan Alhamdulillah lulus. Benar-benar merasa kelulusan itu adalah keajaiban. :’)

Di permulaan semester baru, saya diminta mengganti dosen pembimbing skripsi. Bisa dibilang, pengerjaan skripsi saya ini penuh drama. Drama dari diri saya sendiri pun banyak. A lot of things happens. Akhirnya, saya ganti dosen pembimbing dan baru memasukan DTA baru menjelang akhir tahun ini. Sekarang masih dalam proses penelitian, meski saya serius sering stress sendiri (detailnya nggak perlulah, ya T^T) sampai detik ini.

Bisa dibilang, dari sisi akademik saya masih keteteran di mana-mana. Masih bergumul dengan aneka hal juga. Semoga bisa segera merampungkan amanah ini. Amin.

Dalam karir perajut saya, Februari adalah bulan di mana saya berhasil menyelesaikan pesanan baju granny square. Ini sebauh pekerjaan yang sangat mengasyikan sekaligus melelahkan. Pengin binkin lagi deh. Di akhir tahun pun saya mengambil keputusan untuk memisahkan akun Instagram pribadi dan rajutan-realted. Semoga ke depannya saya bisa mengembangakn hobi ini semakin jauh. Amin.

Ohya, di tahun ini juga saya mengambil keputusan untuk berhenti mengontrak. Selain faktor bahwa rumah kontrakan tsb sudah tak layak huni, saya merasa kondisi kontrakan semakin eksklusif. I miss the old days… Yasmin di awal-awal saya mulai datang ke Yogyakarta adalah rumah yang hangat. Sayangnya, saya tidak berhasil menjadi mbak-mbak yang hangat seperti mbak-mbak yang menerima saya pertama kali di Yasmin. :’)

Di bulan Oktober/November itu saya pernah depresi. Sedih. Kecewa berat sama diri sendiri. Banyak trigger-nya. Rasanya lelah bahkan buat mengingatnya. Saya rasa bulan-bulan itu saya memang menjelma menjadi manusia yang tak bisa bersyukur. Ada masalah yang menimpa keluarga saya. Ada beban TA yang tak kunjung selesai. Ada kenyataan pahit yang harus saya terima lagi dan lagi. Ada kesempatan yang saya sia-siakan. Ada banyak emosi negatif berkembang dalam diri saya. Hingga pada suatu malam, semuanya meledak begitu saja.

Alhamdulillah, sekarang saya lebih bisa untuk menerima. Sejujurnya, hidup memang terasa lebih damai ketika kita berlapang dada dan banyak-banyak bersyukur (yang bukan hanya di bibir). Hal ini masih menjadi PR dalam hidup saya sampai detik ini. :’)

Lagi pula, pada akhirnya Allah memberikan saya kejutan-kejutan yang menyenangkan. Ada tawaran blogtour buku terbaru penulis favorit saya. Ada juga pesan dari Kak Yuu yang bilang “Mau aku kasih The Girl on Paper?” yang serius hal ini membuat mood saya meningkat kala itu (meski orangnya nggak tahu :”D). Ada obrolan dengan Eka dan hadiahnya yang manis (makasih, Eka!). Juga ada kejutan-kejutan lain, tawaran kerjasama buku, hadiah, traktiran makan, juga chat group tele yang sumpah mewarnai hari-hari saya (sekaligus membuat tidak produktif ToT), sampai menang #StorialParadoks (I’m really really grateful! Thank you Luthfi!)

Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan saya bersama buku (eaaa istilahnya), tapi tulisan ini saya simpan untuk blog buku. Sila cek Melukis Bianglala jika kamu tertarik.

Nah, kan lebih lempeng tahun ini. Saya banyak bergumul dengan diri sendiri sih, jadi rasanya nggak ada kejadian-kejadian besar seperti pada tahun 2013/2014 yang penuh drama dan jujur banget melukai saya di banyak aspek. But, I’m survive. 2017 can’t be that worst, can it?

Akhir tahun ini pun saya kere karena tidak bisa mengontrol diri dalam berbelanja buku (oke, ini catatan banget buat diri sendiri, 2017 nggak boleh sampai separah ini), tapi saya masih hidup. Saya masih bisa bernapas dan tidak lapar dan punya tempat benaung. Bukankah itu sudah cukup? :”)

Ayo, datang 2017. Saya siap! *angkat pedang dan perisai*

Advertisements

Author:

Seorang gadis pecinta Venezia dan es krim cokelat. Paling senang menambah tumpukan buku, menimbun benang rajutan, dan menatap langit-langit kamar. Sejak kecil bercita-cita menjadi penulis fantasi, yang sayangnya belum kesampaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s