Posted in Tantangan

[10] Merah

Ini tema hari ke-10 kemarin, tapi saya nggak sempat nulis. Namun, saya sudah berjanji akan menulis semua tema yang berhubungan sama mengarang. Jadi, nggak masalahlah ya saya rapel di weekend ini. Semoga bisa semuanya. XD

Tema: Salju yang pertama turun, janji, syal merah.

scarf-686781_640

.

.

MERAH

Malam itu kamu seindah biasa. Rambut pirangmu melambai bersama salju pertama tahun ini. Aku melihat kedua matamu dihiasi bintang-bintang. Mantel berwarna gading membungkus tubuh rampingmu. Lengkap dengan syal seputih susu. Indah sekali.

Aku hanya sanggup berdecak kagum melihat sosokmu muncul di pintu keluar stasiun. Kamu terlihat bercahaya di antara orang-orang yang berjalan tergesa.

Dengan senyum lebar terpasang di wajah, kamu lalu berjalan mendekat. “Hai. Apa kamu sudah lama menunggu?”

“Tidak.”

Senyummu melebar. Aku mendapti kelegaan di kedua matamu. “Aku pikir aku terlambat.”

“Kamu datang tepat waktu.”

“Syukurlah,” ujarmu dengan suara lembut. Kemudian, kamu bergegas mengambur. Memberi pelukan lebar. Memberi ciuman-ciuman mesra. Mencairkan salju-salju yang baru saja sampai ke bumi.

Lalu, suara tawamu menghambur. Meski jalanan dipenuhi suara-suara, pendengaranku hanya menangkap suaramu.

“Ayo, kita pergi. Sebentar lagi pertunjukan akan dimulai.”

Kamu mengangguk sembari menautkan jemari erat. Meski udara masih cukup hangat, aku tahu betul kenapa kamu tidak mengenakan sarung tangan.

Kakimu pun mulai melangkah di jalanan berpaving. Melewati bangunan-bangunan yang mulai berhias warna-warna merah dan emas. Sepanjang jalan, kamu tidak berhenti bercerita. Tentang pekerjaanmu, tentang kesibukanmu, tentang pakaian di etalase toko, tentang orang-orang yang berlalu, tentang segala hal.

Pekerjaanku hanyalah mendengar suaramu dengan saksama. Seperti janji yang aku ikrarkan.

“Apakah kamu akan selalu ada di sisiku?”

“Ya, aku janji.”

“Mendengarkanku?”

“Ya.”

“Mencintaiku?”

“Ya.”

“Selamanya?”

“Selamanya. Aku janji.”

Janji itu terasa seperti baru aku katakan kemarin sore. Padahal tahun-tahun telah berlalu dan salju telah berulang kali menguap bersama janji-janji.

Kerumuman tampak semakin sepi ketika kaki mencapai blok berikutnya. Satu belokan lagi, gedung pertunjukan yang kamu tuju akan terlihat. Gedung megah yang menampilkan pertunjukan megah.

Namun, sebelum berbelok, kaki dan tanganku bergerak lebih cepat. Aku sudah menunggu sedari tadi. Aku bahkan rela berputar sedikit sebelum sampai ke blok ini.

Kamu baru saja melewati lampu jalan yang padam ketika revolver di tanganku meletus. Suara bising terdengar. Merah. Syal yang melilit lehermu sekarang memerah. Lalu, kamu terjatuh ke jalan, menarik lelaki yang menggenggam tanganmu rapat.

Lelaki itu tampak terkejut. Begitu juga dengan beberapa orang lain di sekitar.

Aku menatap sosokmu yang memerah dengan indah. Warna merah memang lebih cocok bagimu daripada putih.

“Selamanya sudah berakhir,” bisikku dengan suara rendah. “Aku menepati janji kita.”

Kemudian, suara revolver terdengar lagi sebelum segalanya berubah hitam.


Oh, ya, saya mencoba menuliskan sesuatu yang misleading dan thriller. Saya nggak begitu yakin, tapi saya harap kamu mendapatkanya ketika membaca cerita ini. Ditunggu kritik dan sarannya. 😀

Advertisements

Author:

Seorang gadis pecinta Venezia dan es krim cokelat. Paling senang menambah tumpukan buku, menimbun benang rajutan, dan menatap langit-langit kamar. Sejak kecil bercita-cita menjadi penulis fantasi, yang sayangnya belum kesampaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s