Posted in Tulisan

Nona Jeruk

Cerita ini ditulis pertama kali 2011 silam. Berhubung tidak jadi bisa mengejar tantangan menulis Maret *nangis* akhirnya saya publikasikan ulang saja cerita ini, tentunya dengan sedikit perbaikan di sana-sini.


“Oranye aja, oranye!” ujarmu kelewat semangat.

Termangu. Mataku sibuk memperhatikan layar laptop yang entah berisikan apa sekarang, karena telingaku sedang sibuk mendengarkan bisik-bisik yang masuk melalui celah pintu kamar. Aku memang tidak merepet ke pintu. Untuk apa? Toh aku masih bisa mendengarkanmu yang berbincang di ruang tengah dengan antusias.

Tanggapan-tanggapan yang menyusul perkataanmu sungguh membuatku dongkol. Bagaimana mungkin kamu bisa langsung akrab seperti itu?

Oh, menyebalkan. Mengapa aku harus menjadi pemalu dan susah beradaptasi? Mengapa aku lebih sibuk dengan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting?

Aku masih diam, mendengarkan dengan seksama pembicaraan yang membumbung tinggi di angkasa ruang tengah. Sesekali suara tabung kaca menyamarkan bincang-bincang hangat itu, tetapi toh tidak lama. Dalam waktu singkat tawa menguasai dan aku seolah melihat pancaran kebahagiaan melewati pintu kamarku yang tertutup.

***

Kenapa di antara semua orang harus kamu yang datang? Kamu yang juga teman satu kampusku. Kamu yang juga teman satu jurusan denganku. Kamu yang bahkan teman satu organisasi bersamaku.

Oh, aku yakin ini akan menjadi sebuah mimpi buruk.

“Gimana? Nyaman?” tanyaku berbasa-basi. Rasanya iri melihatmu bisa langsung dekat dengan tetangga sebelahmu sedang aku tidak bisa (bahkan hingga saat ini).

Kamu menjawab seadanya sambil tersenyum. “Yah, lumayanlah, kamarnya luas.”

Aku hanya mengangguk memaklumi dan berlalu. Setengah berharap kamu tidak akan betah dan memutuskan untuk keluar esok harinya.

***

“Wao, barangmu oranye semua!” Ia berseru penuh keterkejutan sambil mengelilingi kamarmu.

Dari sisi pintu masuk aku mengintip, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Memang, rata-rata barangmu berwarna oranye. Kamu sebegitu mencintai oranye, ya?

Dengan senyum sumringah kamu menunjukan barang-barang kesayanganmu yang dilapisi warna oranye. Saat itu sudah beberapa minggu berlalu sejak kedatanganmu di sini. Sedikit banyak aku sudah bisa bersikap wajar dan rileks di hadapanmu dan ia serta ia-ia.

“Nona Jeruk!” panggilnya untukmu kemudian. Alasanmu mencintai oranye sudah lebih dari cukup kurasa untuk menjadi alasan nama panggilan tersebut.

Iri itu, yang aku rasakan ketika melihatmu bercengkrama dengannya begitu akrab sepulang aku dari kampus, berangsung-angsur meluruh. Dongkol itu, yang aku sadari ketika kamu bersuara penuh semangat di ruangan di luar kamarku yang damai, sedikit demi sedikit menguap. Kesal itu, yang aku pahami karena kesalahanku sendiri yang (benar-benar) aku sadari begitu kedatanganmu, mau tak mau berubah menjadi semangat serta keinginan.

Terima kasih, ya, Nona Jeruk.

fin

[ terima kasih karena sudah mengeluarkanku dari cangkang ini ]

Advertisements

Author:

Seorang gadis pecinta Venezia dan es krim cokelat. Paling senang menambah tumpukan buku, menimbun benang rajutan, dan menatap langit-langit kamar. Sejak kecil bercita-cita menjadi penulis fantasi, yang sayangnya belum kesampaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s