Posted in Tulisan

Bisakah Aku Membalas Cintamu?

Sebentar lagi, nyaris seperempat abad saya telah hidup di dunia ini. Bukan waktu yang singkat, meski tentu saja bukan juga waktu yang bisa membuat saya dikategorikan bisa dibilang sepenuhnya dewasa.

Dan sepanjang kehidupan ini, tak pernah sekalipun terlepas dari sosok kedua orang tua saya. Saya yang sekarang tidak mungkin ada di dunia tanpa mereka berdua. Bukankah tanpa orang tua, tidak akan pernah ada seorang anak?

foto keluarga
Foto ibu saya dengan anak-anaknya ketika masih kecil

Sejak saya bukan apa-apa, keduanya membesarkan saya hingga detik ini. Saya masih ingat ketika ibu saya mengajarkan saya cara menggunakan jilbab. Saya masih ingat ketika ayah saya menggajarkan saya cara menggunakan perangkat komputer. Saya masih ingat saat-saat ketika ibu saya mengajarkan saya resep-resep masakannya. Dan sebagainya yang begitu banyak adn tidak sanggup saya tulis satu demi satu.

Banyak hal di dunia ini yang saya ketahui dari keduanya. Hal-hal yang mungkin bahkan sudah saya lupakan kapan mereka mengajari saya. Cara memegang sendok, cara menulis, cara menjahit, cara berbicara, hingga cara berpikir dan hidup di dunia ini.

Saya sendiri bukanlah gambaran anak yang membanggakan bagi mereka berdua. Dengan fakta bahwa sampai detik ini saya belum bisa disebut anggota masyarakat yang utuh dan belum juga mandiri secara finansial. Saya tidak memiliki prestasi membanggakan di bidang akademis. Saya pun bukan tergolong anak muda yang senang berwirausaha apalagi membuat perubahan besar dan bercita-cita besar. Usia yang sudah mendekati seperempat abad ini dan kenyatan masih menjadi beban orang tua tentu saja sering kali membuat saya depresi dan bersedih.

Akan tetapi, sampai detik ini, tidak pernah sekali pun saya mendengar keduanya berkata bahwa “saya contoh yang gagal” atau “kakakmu orang gagal” atau bahkan “anak tidak tahu terima kasih”. Saya sungguh-sungguh bersyukur kedua orang tua saya bukanlah orang tua yang sanggup mengatakan hal-hal seperti itu di depan wajah anak-anaknya dan menghancurkan kepercayaan diri mereka.

Meski, jauh di dalam hati, saya sendiri tahu bahwa mereka kemungkinan kecewa dengan saya. Saya tahu dan sepenuhnya sadar. Tanpa perlu mendengar kalimat-kalimat itu mengangkasa dari keduanya.

Setelah segala hal yang dikorbankan kedua orang tua saya, setelah semua cinta yang tercurah dalam hidup saya, apakah masih belum cukup bagi saya untuk mencintai keduanya?

 

Sejak masih kecil, kita selalu diajarkan untuk menghormati dan menyayangi kedua orang tua kita. Kita pasti pun sering diingatkan betapa besar pengorbanan yang telah mereka berikan pada kita dan bahwa kita tidak mungkin bisa membalas apa yang telah mereka berikan. Namun, semua petuah itu baru benar-benar saya pahami ketika mulai mendewasa seperi ini.

Ketika masih kanak-kanak, hal yang saya pikirkan hanya seputar kesenangan anak kecil. Permainan, game, makanan, hal-hal kecil. Ketika remaja, saya mulai sibuk dengan teman-teman saya. Bermain bersama mereka, menghabiskan waktu dengan mereka, dan merasa sebagai anak yang tidak disayang ketika orang tua melarang ini-itu padahal demi kebaikan saya. Ahaha. Jika mengingat masa-masa itu, saya merasa begitu sedih pada diri sendiri. :”)

Segala hal yang telah dikorbankan kedua orang tua saya untuk diri ini, baru benar-benar saya pahami dan sadari sepenuhnya ketika telah melewati usia dua puluh tahun. Dan … saya cukup yakin orang tua saya menjadi urutan pertama dalam hidup saya hingga sampai di titik saya menikah.

Ketika seseorang menikah, mereka bukannya melupakan orang tua sendiri. Akan tetapi, pikiran mereka telah bercabang, perhatian mereka dipecahkan orang-orang lain yang akan bersama seumur hidup dengan mereka. Belum lagi jika pada akhirnya mereka memiliki anak-anak.

Saya berkaca soal hal ini pada orang-orang di sekitar saya. Dari buku-buku yang saya baca, dari film-film yang saya tonton, dan tentu saja dari cerita-cerita yang sampai di telinga saya. Itulah sebabnya, waktu-waktu sekarang ini adalah waktu yang benar-benar harus saya gunakan untuk membalas pengorbanan mereka, membalas cinta mereka.

Lalu, apa yang bisa saya berikan untuk membalas semua itu? Membalas waktu, uang, keringat, cinta, bahkan darah kedua orang tua saya yang terkorbankan sejak saya masih calon bayi?

Apakah jika saya menghadihkan mesin cuci, hal ini cukup untuk menggantikan waktu-waktu ibu saya yang terbuang untuk membersihkan cucian baju saya sejak kecil? Apakah jika saya membelikan alat olahraga, hal ini setara dengan waktu yang dihabiskan ayah saya untuk mencari nafkah bagi anaknya dan bukan mengurus dirinya agar lebih sehat? Apakah segala barang atau bahkan uang yang saya berikan kepada keduanya cukup membalas cinta keduanya?

Apakah cinta kedua orang tua saya akan cukup jika disandingkan dengan materi?

Saya rasa tidak. Tidak ada hal apa pun yang cukup untuk membalaskan cinta, selain dengan cinta,

Cinta ini memang bisa saya tunjukkan lewat hadiah. Barang-barang yang bermanfaat bagi orang tua saya. Barang-barang yang mempermudah kehidupan mereka, yang seiring waktu ditinggal satu demi satu anaknya.

Namun, cinta ini juga harus aya tunjukkan dalam waktu saya. Telepon-telepon yang saya sempatkan di tengah kesibukan. Pesan-pesan singkat yang saya kirimkan satu-dua kali. Kehadiran saya di sisi mereka yang harus saya usahakan. Seperti kedua orang tua saya yang ada untuk saya, sekarang saya yang harus ada untuk mereka.

Bismillah. Doakan semoga saya segera bisa membalas, meski hanya secuil cintamu, wahai Ayah dan Ibu.

Advertisements

Author:

Seorang gadis pecinta Venezia dan es krim cokelat. Paling senang menambah tumpukan buku, menimbun benang rajutan, dan menatap langit-langit kamar. Sejak kecil bercita-cita menjadi penulis fantasi, yang sayangnya belum kesampaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s