Posted in Tulisan

Bisakah Aku Membalas Cintamu?

Sebentar lagi, nyaris seperempat abad saya telah hidup di dunia ini. Bukan waktu yang singkat, meski tentu saja bukan juga waktu yang bisa membuat saya dikategorikan bisa dibilang sepenuhnya dewasa.

Dan sepanjang kehidupan ini, tak pernah sekalipun terlepas dari sosok kedua orang tua saya. Saya yang sekarang tidak mungkin ada di dunia tanpa mereka berdua. Bukankah tanpa orang tua, tidak akan pernah ada seorang anak?

foto keluarga
Foto ibu saya dengan anak-anaknya ketika masih kecil

Sejak saya bukan apa-apa, keduanya membesarkan saya hingga detik ini. Saya masih ingat ketika ibu saya mengajarkan saya cara menggunakan jilbab. Saya masih ingat ketika ayah saya menggajarkan saya cara menggunakan perangkat komputer. Saya masih ingat saat-saat ketika ibu saya mengajarkan saya resep-resep masakannya. Dan sebagainya yang begitu banyak adn tidak sanggup saya tulis satu demi satu. Continue reading “Bisakah Aku Membalas Cintamu?”

Advertisements
Posted in Tulisan

Nona Jeruk

Cerita ini ditulis pertama kali 2011 silam. Berhubung tidak jadi bisa mengejar tantangan menulis Maret *nangis* akhirnya saya publikasikan ulang saja cerita ini, tentunya dengan sedikit perbaikan di sana-sini.


“Oranye aja, oranye!” ujarmu kelewat semangat.

Termangu. Mataku sibuk memperhatikan layar laptop yang entah berisikan apa sekarang, karena telingaku sedang sibuk mendengarkan bisik-bisik yang masuk melalui celah pintu kamar. Aku memang tidak merepet ke pintu. Untuk apa? Toh aku masih bisa mendengarkanmu yang berbincang di ruang tengah dengan antusias.

Tanggapan-tanggapan yang menyusul perkataanmu sungguh membuatku dongkol. Bagaimana mungkin kamu bisa langsung akrab seperti itu?

Continue reading “Nona Jeruk”

Posted in Tulisan

Aku Hilang (Lagi)

blue-valley

Usiaku dua puluh tahun saat aku sadar bahwa aku hilang.

Saat itu, aku seorang diri. Tak ada mereka yang selalu mengajakku ke kantin. Tak ada mereka yang menemaniku berjalan-jalan di penghujung hari. Tak ada mereka yang enam tahun belakangan ini selalu mengisi hariku dengan keakraban.

Mereka telah beranjak. Menelusuri jalan mereka sendiri. Mengejar cita-cita dan mimpi dan masa depan. Meninggalkan aku hilang di tengah-tengah keterasingan.

Continue reading “Aku Hilang (Lagi)”

Posted in Tulisan

Taruhan

Linda tanpa sengaja membanting tumpukan buku dan kertas-kertasnya ke meja perpustakaan. Untungnya sang penjaga perpustakaan cukup dekat dengan Linda sehingga dia hanya ditatap tajam sekilas. Linda segera menunduk meminta maaf sebelum duduk di kursi. Hari ini perasaannya begitu campur aduk.

Baru saja dia melihat melihat daftar nama pemenang lomba menulis yang ditempel di mading sekolah. Rasanya hati Linda tercabik-cabik melihat tidak ada namanya

Continue reading “Taruhan”

Posted in Tulisan

sebuah fanfiksi Memori: Rumah dan Mahoni

Disclaimer: Semuanya: tokoh, dunia, cerita, alur, bahkan percakapan yang ada di sini adalah milik kak Windry Ramadhina, yang menulis Memori. Terima kasih telah mengizikan saya meminjam segalanya sejenak. :”)

Catatan: Ditulis dari sudut pandang Sigi (karena Sigi-lah yang membuat saya tidak bisa move on dari Memori). Semoga tidak OOC, hehe.

————————–

Sebuah Fanfiksi Memori:

Rumah dan Mahoni

Gue sering mendengar cerita tentangnya, tentang gadis penghuni kamar berpintu mahoni. Cerita-cerita itu biasanya dimulai dengan, Kau tahu, Sigi, dan Papa mulai bertutur panjang-lebar ketika aku berjongkok memerhatikannya di bengkel yang berbau pelitur dan kayu.

Satu cerita yang paling gue ingat adalah, Kau tahu, Sigi? Mahoni, kakakmu itu, selalu duduk di sana.

Papa meletakkan palunya sebelum menunjuk kotak kayu besar di dekat pintu. Matanya menatap menerawang. Lalu, gue merasakan tangan besar Papa di puncak kepala, mengacak helaian rambut gue. Dia juga sama sepertimu. Bangun sepagi ini untuk menemani Papa bekerja di bengkel, tambah Papa.

Dan senyum di wajah Papa merekah, matanya bersinar, sedang tangannya mulai mengetukkan palu di balok-balok kayu.

Dia hanya duduk? gue bertanya.

Iya. Dia hanya duduk. Meski seringkali bertanya-tanya tentang berbagai macam hal juga sepertimu.

Gue lalu memerhatikan kotak kayu di dekat pintu depan. Membayangkan ada seorang gadis berambut merah ikal duduk dengan baju tidurnya. Gue belum pernah bertemu Mahoni, tapi gue sudah kenal wajahnya. Dari album lama yang sering Papa buka diam-diam sebelum makan malam di akhir minggu.

Hari itu, gue masih bersekolah dasar. Suara gue juga masih cempreng. Tetapi, sejak hari itu gue bisa membayangkan adegan setiap pagi yang Papa dan Mahoni lakukan.

Lantas, gue bangkit berdiri. Sembari menyibak serbuk kayu yang menempel di piyama—masih dengan bayangan Mahoni duduk di tempatnya yang biasa dan Papa berkutat dengan balok kayu dalam kepala—gue bertanya, Boleh aku membantu Papa?

Papa tertegun selama beberapa detik sebelum tersenyum lebar mengiyakan.

Sejak saat itu, Papa membiarkan gue ikut bergelut dengan palu, pelitur, dan balok-balok kayu di bengkel belakang rumah. Kadang sampai gue bisa terlambat bersekolah jika Mama tidak muncul dan mengomel. Dan kadang bisa tidak berhenti sama sekali di akhir minggu.

Dalam bayangan gue, jika Mahoni ada di sini, dia akan menatap gue dengan iri karena gue diperbolehkan membantu Papa. Dan gue akan tersenyum bangga karena lama-lama gue akan sejago Papa.

Akan tetapi, saat itu, gue tidak pernah membayangkan bahwa Mahoni akan benar-benar duduk di tempat biasanya di bengkel Papa. Bukan dengan tatapan iri, melainkan dengan wajah berlinang air mata.

Continue reading “sebuah fanfiksi Memori: Rumah dan Mahoni”